Bahasa Travel

Thailand Lopburi - street sign

Bacain! Bacain dong!

Halo friends, saya ingin sharing tentang pengalaman saya adaptasi dengan BAHASA, keluyuran selama 3,5th di 40-50-an negara gini. Banyak yang takut keluyuran di negara asing karena kendala bahasa. Apalagi kalau negara tujuan tak kenal Bahasa Indonesia dan Inggris.

Kami nggak pernah menghindari suatu negara karena bahasa, dan nyatanya kami bisa-bisa saja kok survive 🙂

#BahasaTravel yang paling ampuh berdasar pengalaman adalah Inggris.

Bisa dianggap ini adalah bahasa yang paling universal.

Saya mulai belajar Bahasa Inggris di SMP. Dulu nilai Inggris saya empot-empotan mulu, nggak jarang 3 digit di bawah nilai Mat/IPA saya. Sembilan tahun belajar Bahasa Inggris di sekolah, tetep payah. Kenal Ryan satu tahun, langsung ningkat. Intinya, kalau mau Bahasa Inggris bagus, rajin-rajin praktek!

Laos - Luang Prabang - Monk Novice Khao and 1000 rupiah

Luang Prabang, Laos. Monk novice (sramanera) pun belajar Bahasa Inggris. Ini Khao, sedang praktek Inggrisnya dengan saya. Sedangkan temannya kurang nekad berbicara. Khao memberiku uang seribu rupiah!! Where did you get it, Khao?

Saya nggak akan ngaku-ngaku bisa banyak bahasa. Bagi saya, untuk bilang “saya bisa bahasa ini”, saya harus mampu ngobrol dalam bahasa itu. Nggak sekedar buat nawar harga. Bahasa apa yang saya bisa? Cuma Indonesia dan Inggris. Jawa dan Surabaya kasaran juga bisa. Tapi krama inggil payah ampun-ampunan. -_- Bahasa yang saya bisa di tingkat dasar, karena pernah kursus, adalah Prancis dan Jepang. Tapi dasar banget ini. Sedangkan Ryan bisa Bahasa Inggris dan Jepang dengan fasih, dan Prancis tingkat anak sekolahan (2nd languagenya di Kanada). Pengalaman traveling di Eropa Barat, selama ini nggak perlu bahasa lain selain Inggris. Di mana-mana, orang bisa Inggris sedikit-sedikit. Di Spanyol pun orang-orang bisa Inggris sedikit-sedikit. Malah di Amerika Tengah yang berbahasa nasional Spanyol, banyak orang yang Inggrisnya NOL. Bahasa Inggris orang Amerika Tengah yang aku sebut nol ini, mereka bahkan nggak ngerti angka dan kata-kata gampang seperti drink, eat, food, ataupun how much. Nah dalam kasus Amerika Tengah ini, kita mau nggak mau saya belajar bahasa Spanyol sedikit. Padahal di negara Spanyol sendiri, pakai Bahasa Inggris terus. Dalam rangka belajar bahasa Spanyol, saya beli buku saku panduannya. Itu cukup. Ada percakapan dalam segala skenario. Misal pengucapan kita salah, bisa tunjuk-tunjuk kalimat tersebut di buku. Asal orangnya nggak buta huruf aja (bukannya nggak mungkin, haha).

Banyak orang kita yang malu-malu dalam berbahasa Inggris.

Jangan! Nggak harus sempurna, yang penting pesan tersampaikan.

Di lokasi yang nggak berbahasa Inggris, bicara bahasa Inggris biasanya perlu diimbangi dengan Bahasa Tubuh. Ayo latihan =D

Thailand Lopburi - Prang Sam Yot - I love you Monkey

Bahasa tubuh: Aku sayang padamu! (Prang Sam Yot, Lopburi, Thailand)

Deteksilah kemampuan Inggris lawan bicara kamu. Kalau mereka bisanya basic banget, jangan pakai kalimat, tapi sebutkan kata-kata kunci satu per satu dengan jelas. Misalnya, daripada bilang “I can’t eat pork”, bilang satu per satu “pork” dan “no” sambil kibas-kibas tangan menandakan “no”. Aku alergi sama udang. Kalau makan udang bisa koit. Dan ini nggak cuma udang wungkul gede, tapi petis udang aja nggak bisa. Di Thailand, banyak makanan yang mengandung udang tersembunyi. Kata-kata kunci yang aku pakai: shrimp, prawn, no, allergy, dan dead. Bilang dead-nya ini sambil bergaya tepar. Ini gara-gara ngotot mau makan pad thai yang biasanya banyak ebi-nya. Kami sebenarnya nggak terlalu suka keluyuran di daerah main stream tourism, sukanya melenceng yang lebih jarang ada turis. Di negara yang tak berbahasa Inggris, semakin jauh dari pengaruh turis, semakin parah ilmu Inggris mereka. Di sini pengetahuan bahasa lokal, meski minimum, sangat berguna. Sudah pernah dengar kisah kami nyasar di pedalaman Laos, dan motor bobrok kami mogok total?

Laos - Vieng Xai get lost

Berusaha ke Vieng Xai, Laos. Sudah nyasar, pakai mogok pula! Dasar motor bobrok! Kemudian ditolong warga desa, yang hatinya sangat mulia, tapi Inggrisnya NOL besar.

Selain itu, kami juga pernah hitchhike di antah berantah Laos,  ke orang-orang yang Bahasa Inggris-nya nol! Di sini, 1 mobil lewat dengan frekuensi sekali dalam 10-30 menit. Haha. Kalau gagal, harus jalan kaki 30-an km di gunung. Kenapa nggak naik kendaraan umum? Karena nggak ada sama sekali, haha! Bayangkan, hitchhike berarti kami harus bisa menyampaikan mengapa kami menyetop mobil mereka (yg jarang terjadi), memberi tahu kami hendak menumpang ke kota mana. Rata-rata mereka pergi jarak pendek. Jadi kita harus mengerti saat mereka bilang mereka hanya bisa mengantar hingga ke mana. Ini btw kita juga nggak tahu jalan, ahahaha… Ilmu Bahasa Laos-ku nggak ada artinya di sini. Tapi kami survive-survive aja kok. Hayooo… ingin coba juga khan!?

Saya biasanya coba belajar bahasa setempat sedikit-sedikit.

Bahasa setempat yang penting-penting: Halo, makasih, ya, tidak, <nama jenis tempat>, ini harga berapa, <angka>, ini mahal, bisa kurang?

Warga desa Laos yang berhati mulia tapi beringgris nol menjamu kami Beer Lao dan whisky Laolao saat kami nyasar. Sambil menepuk-nepuk dada, Ryan berkata, “My name is Ryan”. Dan mereka pun memanggil Ryan: “MyName”.

Satu lagi yang manjur adalah belajar aksara setempat.

Jadi kita bisa baca papan nama dan navigasi jalanan. Di Yunani, banyak papan nama/jalan nggak pakai latin. Tapi aku lancar baca aksara Yunani. Identifikasi dan navigasi jadi gampang. Baca menu makanan juga bisa.

Athens: Athina

Athens: Athina

Aksara Jepang yang hiragana dan katakana-nya saya juga lancar dulu. Kanji sedikit-sedikit. Overlap sama mandarin yang sedikit banget. Btw, mandarin ini justru saya pelajari saat berada di Sydney. Berhubung di perpustakaan setempat ada buku-buku pelajaran menulisnya. Awal tahun 2012 ini kami datang ke Thailand pertama kali, saya langsung tekun belajar Thai. Gile susah banget. Belum aksaranya. Bahasa Thai susah karena cengkok-cengkoknya yang ajaib, tata krama bahasanya, dan aksaranya yang njelimet. Waktu itu kami di Bangkok dan Chiang Mai saja, dan survive pakai Inggris doang sudah cukup banget. Motivasi belajar bahasanya jadi kurang. Kemudian kami ke Laos. Bahasa Lao agak mirip Thai tapi jauh lebih simpel. Di Laos, jauh dari daerah turis, Bahasa Inggris penduduk nol besar. Yes/No saja nggak ngerti. Jadi, motivasi belajar Bahasa Lao lebih tinggi. Apalagi ingin nawar barang di pasar malamnya Luang Prabang, haha. Saya jadi bisa nawar dalam bahasa Laos, pakai ngeluh mahal segala. Kami meninggalkan Laos setengah tahun lalu. September ini kembali ke Thailand. Eh, ilmu Bahasa Lao saya terpakai, belajar Bahasa Thai jadi lebih gampang! Memang banyak miripnya kan! Sekarang bisa beberapa kata Thai. Bisa belanja. Bisa baca angka. Aksara inget sedikit-sedikit (Misal Nana dan Lopburi, haha).

Bahasa setempat bukan sekedar berguna untuk survival, tapi mempermudah berteman dengan orang lokal.

Membantu komunikasi, dan pencair suasana juga.

Laos - Xam Neua - Pre new year songkran party

Diajak ikutan pesta keluarga pra tahun baru (songkran) di Xam Neua, Laos. Cuma gara-gara saya senyum-senyum dari pagar rumah. Diajak masuk, makan dan minum. Ga boleh pulang, haha. Cuma dengan Bahasa Inggris dan Laos sepatah dua patah, suasana sangat akrab.

Kapannya saya rajin praktek bilang “enak” dalam Bahasa Thai. Sampai makanan yang nggak enak-enak amat pun kubilang “aroy”, demi praktek, haha. Walau mujinya nggak tulus, tapi saya malah jadi ngobrol-ngobrol bahasa isyarat dengan sang penjual.

Solo Traveling bikin kita bisa bahasa setempat lebih cepat daripada traveling ramean.

Belajar bahasa asing ini jadi lebih cepat saat pisah sama Ryan. Karena kita nggak nggerundel sendiri, open sama orang luar. Juga lebih nekad dan percaya diri. Nggak pakai acara malu sama Ryan kalau bahasa asing saya ini salah-salah. Seperti yang saya bilang: Nggak penting bener, yang penting berani.

Laos - Luang Prabang - Nenek mengupas ubi

Jalan-jalan di gang-gang sempit Luang Prabang seorang diri. Dengan Bahasa Laos yang sangat minim, berkenalan dengan seorang nenek. Beliau mengupaskan saya 3 potong ubi rebus miliknya. “Buat bekal,” mungkin katanya… Sangat menyentuh… :’)

Yuk lihat Maroko. Bahasa mereka Arab. Jadi sering bilang Asalamualaikum dong! Pencair suasana. Bikin orang open ke kita. Dengan bilang Asalamualaikum, mereka jadi tertarik sama kisah kita, dari mana, kok bisa bahasa-nya. Pencair suasana di Maroko. Tapi bahasa Arab saya mandeg di Asalamualaikum dan Astagafirullah. Aksara dan angka bisa sedikit banget. Jadi komunikasinya? Di Maroko, daerah2 yang jauh dengan turis, Bahasa Inggris mereka nol. Tapi mereka bisa Bahasa Prancis sedikit-sedikit. Di sini ilmu Bahasa Prancis Ryan berguna. So far tentang komunikasi, paling parah di Shenzhen, Cina. Mblusuk ke pasar, mau beli bebek panggang. Mereka entah kenapa nggak mau pakai bahasa tubuh. Kan sebel juga kalau respon mereka cuma bilang 1-2 kata diulang-ulang. Sampai teriak-teriak pun, kalau saya nggak ngerti, ya nggak ngerti. Jadi? Saya pakai Bahasa Jari (alias nunjuk-nunjuk). Sama dengan Vietnam. Di Vietnam saya cuma sebentar. Nggak sampai sebulan. Nggak sempet belajar bahasanya. Tiap hari makan street food, gimana dong komunikasinya? Bahasa Jari.

Vietnam - Hanoi - Street food

Makan mie di tikungan jalan di Hanoi

Oh ya, banyak orang yang walaupun ilmu percakapan Inggrisnya jelek banget, tapi Inggris tertulis sebetulnya lumayan. Kadang kertas dan pena bisa membantu. Sewaktu saya di Lopburi Thailand kemarin, saya berusaha membooking kamar untuk bulan depan, karena bakal ada festival besar di sana. Monkey Banquet Festival!! Ping, sang pemilik Hotel Muang Thong (yang di twitter dan facebook sering saya panggil “Hotel Horor”) bisa Bahasa Inggris, tapi sangat terbatas. Dengan berkomunikasi melalui secarik kertas dan pena, urusan ini berlangsung dengan (cukup) lancar.

Thailand Lopburi Muang Thong Hotel

I left my heart in Hotel Horor.

Di Filipin, kalau saya coba bahasa lokal (sekarang udah nggak bisa lagi), mereka malah nggak sabar dan jawab pakai Inggris. Inggris mereka bagus. Di destinasi-destinasi wisata Thailand, harga turis dan penduduk beda. Harga penduduk ditulis pakai Thai. Saya cuma bisa senyum kecut aja. Karena saya bisa baca, tapi tetap kena harga asing. Di sana sering berharap saya dikira lokal. Karena saya bisa bilang harga orang lokal dalam Thai. Tapi saat ditanya ini itu, nggak bisa jawab. Ketahuan dah. Jadi malu-maluin kadang, udah kasih 10 baht sambil bilang “sip baht” (bisanya cuma bilang itu), mereka bilang “foreigner pipti baht” (fifty baht). duh -_- … Padahal saya tampang Thai abis. … (cuma jauh lebih kucel) Di Islandia, walau mereka pakai aksara normal, tapi kata-katanya panjang-panjang banget. Lihatnya bingung, dengernya juga bingung. Bahasa Islandia bagiku terdengar seperti bahasa peri. 🙂 (Bisa nggak kalian eja dan ucapin tuh volcano yang meletus kapannya?) Di Belanda, Bahasa Belandaku nyaris nol. Tapi orang Belanda bahasa Inggrisnya bagus banget. Banyak yang bilang orang Prancis sombong-sombong, nggak mau bicara pakai Inggris. Pengalaman saya nggak gitu sih. Di Prancis saya salute pakai Prancis dulu. Terus tanya, bisa Inggris? Baru kemudian saya switch Inggris. Mereka pun jawab sebisanya.

Satu lagi, Bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu para backpackers. Walaupun benar jika backpackers berbahasa non-Inggris berkumpul di antara mereka sendiri, mereka mungkin pakai bahasa lain, namun rata-rata mereka bisa Bahasa Inggris dasar-medium. Sehingga jika backpackers dengan berbagai backgroud bahasa berkumpul, Inggris lah yang biasa terdengar. Bisa Bahasa Inggris berarti kamu akan cepat berteman dengan para backpacker mancanegara lainnya.

Nicaragua - Masaya Volcano - backpackers

Menyelinap ilegal bersama Matt, Jaime, dan Lucero, ke Masaya Volcano. Gunung berapi aktif berkawah super lebar dengan magma terlihat di dasar. Tidur di rerumputan berular di bawah rasi bintang Leo. Nicaragua.

Jadi pesan saya,

#BahasaTravel:

Bahasa Inggris mantapkan.

Bahasa dan aksara setempat bisakan sedikit.

Jangan lupa bahasa tubuh dan bahasa jari.

Nekad itu penting!!

Philippines - El Nido - Taraw cliff climbing - Dina Isabel

Bersama Isabel, teman baru anak Pinoy, nekad menantang maut, memanjat tebing vertikal Taraw di El Nido, Filipina. Malam sebelumnya, untuk pertama kalinya kami bertemu di warung burger. Baik dia maupun kami nekad ngobrol walau baru bertemu.

Nb: Artikel ini diangkat dari twit series saya berhashtag #BahasaTravel, 9 Oktober 2012. Tentunya banyak tambahan baru, terutama foto-foto, hehe. Nggak ingin ketinggalan obrolan twitter seru macam ini? Yuk follow twitter @DuaRansel =)

Yuk, sekarang giliranmu! Ceritakan pengalaman #BahasaTravel-mu di sini 🙂

Tips Cuci BajuTips Packing BajuTips HostelTips Dana TravelTips Pilih BackpackTips Website Andalan BackpackersTips Colokan Listrik

Tags: , , , ,

51 Responses to “Bahasa Travel”