Halong Bay Photostory [3/3]

Halong Bay

Halong Bay (klik untuk download widescreen wallpaper size)

Baca dulu: Halong Bay Photostory [1/3]
Baca dulu: Halong Bay Photostory [2/3]

Matahari sudah nggak segalak tadi, dan kami semua basah kuyup. Jadilah kami semua, kecuali sang Vietnam tulen, berjemur mengeringkan diri di atap kapal, selagi kapal melaju ke tempat perhentian terakhir: kayak.

Kayak central

Kayak central

Jujur aja, lengan atasku sudah pegel setengah mati akibat renang bolak-balik kapal pulau. Gue bukan manusia berotot. Dan yang renang barengan gue adalah makhluk-makhluk berkulit putih berbadan besar (alesan aja itu, haha, renang ama orang Indonesia juga ketinggalan di belakang kok). Gue adalah salah satu bukti bahwa kamu nggak perlu jadi wanita berotot untuk bisa backpacking. Beraktivitas outdoor juga. Lemah-lemah kayak gue gapapa, asal rela ketinggalan dan nggak malu. Mungkin cuma Ryan aja yang malu. Kalo katanya sih nggak.

Rumah apung

Rumah apung (klik untuk download widescreen wallpaper size)

Berhubung komunikasi sama sekali nggak lancar antara kami para pelancong dan boatman, walau sudah dibantu oleh turis Vietnam tulen yang bisa sepatah dua patah kata dalam bahasa Inggris, aku nggak punya bayangan, kayaknya berapa jauh, dan pakai rute, atau cuma kecimpung-kecimpung di dekat kapal tur. Kalau cuma kecimpungan doang, kan bisa mentas (keluar dari air) kalau capai. Tapi kalau rute keliling pulau, misalnya, kan harus ngayuh sampai akhir. Dan saya memutuskan untuk tidak ikut.

Dan detik-detik terakhir sebelum Ryan melompat ke kayaknya, berpasangan dengan pria Belgia, saya berteriak:

“Ikuuutttt!!!”

Dayung dan anjing

Dayung dan anjing

Dan dengan sukses menyelipkan diri ke lubang kayak bagian depan. Sambil dengan malu minta maaf pada si Belgia. Si Belgia sendiri jadinya berpasangan dengan si pria Vietnam tulen, dan si wanita Vietnam tulen nggak jadi ikut. Memang dia cuma akan ikut kalau diperlukan saja, bikin angka genap. Beginilah susahnya melancong dengan jumlah pasukan ganjil.

Sebenarnya lengan masih sakit, tapi gue nggak mau ketinggalan, haha!

Dan seperti biasa, kami tertinggal di belakang! Kasihan Ryan, tiap kali kayak selalu begini, karena lengan saya paling lemah sendiri. Udah pada baca belum? Sebelum ini saya nyaris hilang di Laut Karibia, ya gara-gara terlalu lemah untuk mendayung! Tapi walaupun lengan lemah dan stamina kurang, kaki saya kualitas pemain sepak bola. Eits!

Floating farm

Floating farm

Kayak di Halong Bay dengan cuaca cerah seperti ini sangat indah. Pemandangan yang dramatis, floating mussel farms di sepanjang jalan, rumah-rumah apung, beberapa pria memukuli sesuatu kuat-kuat entah apa, sementara air memercik ke tubuh kami. Segar. Dan harusnya saya pakai bikini saja tadi, tanpa sarung dan celana pendek, yang kini jadi basah total.

Baru jalan seperempat jam, kami berpikir untuk kembali saja, karena nggak tau yang lain akan pergi sejauh apa, dan lengan saya kecapaian. Sewaktu putar balik, barusan terpikir oleh kami. Bagaimana kalau ujung rute kayak ini nggak kembali ke tempat semula? Dan bagaimana kalau kapal tur kami sudah berpindah tempat ke ujung destinasi rute kayak? Sia-sia dong kalo kami kembali berkayak ke sana? Arrgghhh….

Kayak

Kayak

Yang tadinya saya cuma mau kayak main-main saja, sekarang terpaksa menyelesaikan rute, yang saat itu, nggak terbayang berapa panjangnya. Namun di tengah kelelahan ini, masih sempatnya kami berpotret-potret ria. Ryan yang kebetulan memegang kamera waterproof kami di belakang. Jadi dia yang ambil gambar. Dan saya modelnya. Sempat ambil video segala, memasuki pintu tebing seperti di pembukaan buku the Two Towers’nya the Lord of the Rings. Atau kalau di filmnya, kalau nggak salah nyangsang di bagian akhir the Fellowship of the Ring.

Fishing village

Fishing village

Akibatnya? Ada saatnya yang mendayung cuman gue, sedangkan dia asyik ambil gambar. Semakin capai lengan saya, semakin lambat jalan kayak, dan semakin terpisah jauh di belakang rombongan. Hingga suatu saat, mereka tak nampak lagi sama sekali!

Fishing village

Fishing village

Agak memalukan ketika kami kembali, setelah mengelilingi 1 pulau penuh, dan mereka bertanya, “nyasar ke mana sih?”

Saya melirik ke sisi lain kapal, ada sebuah perahu floating market di situ. Kesempatan kabur. Saya menggumam nggak jelas, “aku beli minum dulu ya…”

Kapal mulai melaju. Belum lama melaju, tiba-tiba kami di atap kapal mendengar suara teriakan dari bawah. Dan…

Brak!

Kapal nabrak

Kapal nabrak

Ternyata, kapal kami nabrak sebuah rumah apung. Uh dasar! Padahal rumah yang ditabrak ini, sudah sejak tadi tak bergeming di sana. Rumah apung yang ditabrak ini sederhana sekali, dindingnya sekadar terbuat dari anyaman saja. Untung nggak apa-apa.

rumah kapal berdinding anyaman

rumah kapal berdinding anyaman

Matahari mulai menurun. Pemandangan Halong Bay berubah. Jika tadi begitu cerah, sekarang mulai menjadi keperakan. Kami meluncur kembali ke Pulau Catba. Seisi kapal mulai memperbincangkan masalah tur yang terlambat dan kapan yang mogok, yang membuang 2 jam yang berharga dari perjalanan yang cuma 9 jam ini. Nyaris seperlimanya. Masing-masing membuat rencana untuk mendatangi tur agennya untuk minta ganti rugi.

Matahari hampir tenggelam

Matahari hampir tenggelam (klik untuk download widescreen wallpaper size)

Di tengah perbincangan ini, si bapak boatman naik ke atap.

“Beer… you pay beer.”

Huh?

“Beer. All you drink beer lunch.”

Jadi birnya ditaruh di meja gitu, di sebelah piring masing-masing orang, sekarang kami harus bayar?

“Beer not include. Beer you pay.”

beer scam

beer scam

By the way, kok tahu-tahu bisa bahasa Inggris? Tadi siang ga bisa sama sekali. Sengaja nih ya pak?

Kami sudah ingin minta ganti rugi ama tur yang terpotong 2 jam, eh ini si bapak muncul minta duit bir, yang disajikan bagi kami di atas meja. Kami ga minta. Mana birnya hangat lagi. Ini sengaja menjebak namanya.

Reaksi kami beragam mulai dari tergelak menertawakan, menggerutu, diam acuh tak acuh, berargumentasi, hingga yang marah-marah. Yang marah ini, rupanya karena si bapak boatman tadi siang membuang kacamata hitamnya ke dalam tong sampah. Taunya pada saat dia mencari-cari kacamatanya yang lenyap dari meja, dia tanya sang boatman. Dan sang boatman menunjuk ke arah tempat sampah. Padahal kacamatanya bagus, tidak seperti sampah. Atau justru karena bagus? Sengaja kah? Niat buruk? Dia curiga.

Mungkin harga bir nggak mahal-mahal amat, 1-3 dolar. Tapi as a matter of principle, kami semua nggak suka scammer. Jadilah kami ngotot nggak mau bayar. Tanya harganya aja enggak. Sepakat.

Dan si boatman mematikan mesin kapal di tengah perairan. Semacam ancaman, kalau kami tidak bayar, tidak diantar balik ke dermaga.

Dan teman-teman di tur ini,saking jengkelnya, kompakan. Mending lompat ke air dan renang ke rumah apung terus bayar kapal ke darat, daripada bayar duit beer scam. Bukan masalah duitnya, tapi kami menentang scam. Kami semua udah capek oleh berbagai scam di Vietnam.

Tapi kan di tur ini juga ada 2 orang turis Vietnam tulen, nggak tau mereka disuruh bayar atau nggak, yang pasti mereka di jalur damai. Karena kami bersikeras ga bayar setelah 10-15 menit, akhirnya kapal pun bergerak kembali, dan kami pun diturunkan di Pulau Catba. Fiuh!

Ah, jadi lupa nerusin motret sunset, gara-gara masalah bir!

Malamnya, ketika kami protes ke agen tur kami, dia berjanji meminjamkan sebuah sepeda motor gratis dari rentalnya untuk besok. Ya sudah lah. Teman-teman yang lain juga mendapatkan kompensasi sebesar beberapa dolar.

~ Happy ending untuk semua 🙂 ~

~THE END ~

Halong Bay

Halong Bay (klik untuk download widescreen wallpaper size)

Baca dulu: Halong Bay Photostory [1/3]
Baca dulu: Halong Bay Photostory [2/3]

Tags: , , , , , , , , ,

2 Responses to “Halong Bay Photostory [3/3]”