Misadventures don’t Make Good Travel Guides

Catatan dari Twitter.com/DuaRansel, 23 April 2012

Halo folks, artikel ini sebenarnya adalah editan twit-twit saya suatu malam, jadi mungkin formatnya agak lucu bagi yang kurang familiar. Saya rasa, sayang kalau tidak di-share untuk teman-teman lainnya. Follow gue ya, biar ga ketinggalan cerita yang beginian. Enjoy!

Gue suka sharing pengalaman traveling gue. Namun untuk nulis travel guide, itu beda lagi. Ini sebabnya…

Laos - Vieng Xai - Sepeda motor jebol 2R

Motor jebol

Gue suka sharing pengalaman traveling gue, sukur-sukur kalau bisa bantu kasih ide untuk para traveler lainnya. Tapi kami nggak suka berada di main-stream tourisme, jadi kadang rada nggak standar bagi para traveler, dan rada susah dicopy.

Semua pada tau istilah beaten path dan off beaten path kan? Kami kadang di jalur beaten, kadang off beaten. Tergantung mood kami aja. Kalau sedang berada di beaten path, sukanya masih berusaha cari jalur alternatif, atau manfaatin off-season, jadi nggak terlalu touristy. Di lokasi-lokasi di mana jadwal dan peraturan kurang teratur, kami pun suka nyemplung. separuh survey internet dulu, separuh nyemplung. Kadang di internet, informasi nggak ada, kadang di-warning utk cek lapangan dulu. Kami kadang males cek lapangan, langsung tembak aja.

Karena kami slow traveling, kalau jadinya menyimpang banget, ya gpp-gpp ajah. Aku ngerti ama yang jadwalnya ketat, nggak bisa sembarangan. Di kala waktu kami terbatas, planning kami juga lebih hati-hati kok. Jadi nggak harus selalu gini atau selalu gitu, tergantung keadaan.

Jadi kadang kalau ada yang nanya, “mbak ke sananya gimana?” Rada takut jawab, soalnya yang dulu gue berhasil, sekarang belum tentu. Karena nggak terpaku pada guide book cetakan seperti LP, dan karena di lapangan “nama-nama” tempat/makanan belum tentu ada. Atau kadang ada tapi dalam aksara yang gue nggak bisa baca, jadi banyak sekali ilmu nebak dan ilmu liat sikon dipakai. Kalau saya ngotot semua harus didokumentasikan, pasti habis banyak waktu untuk dokumentasi, dan esensi kepuasan menipis.

Saya sharing kisah saya dalam bentuk tulisan. Tapi saya traveling bukan demi tulisan.

Gimana caranya supaya dapat transportasi lokal yang murah? Gimana caranya supaya nggak kena scam? Banyak faktor yang mempengaruhi kan. Jadi aku bisa share ke kalian, apa yang aku lakukan. Cuma keluar duit segini, transportasi lokal autentik, dsb. Tapi bukannya nggak beresiko. Beda hari, beda sikon, beda cerita.

Misalnya ke ViengXai Laos yang sangat cantik alamnya dan sangat bersejarah gua-guanya. Ke sana dari kota tetangga naik motor. Ternyata salah ambil jalan. Terus motor sewaan jebol di desa antah berantah. Orang sana nggak bisa Inggris blas. Bahasa Inggris dasar banget macam “hello” dan “thank you” aja nggak tahu. Dan bahasa Laosku benar-benar terbatas utk tawar menawar saja. Terus gimana dong? Bahasa Tarzan keluar. Liat sikon. Pakai senyum.

Nggak mau gue tulis di sini gimana akhirnya dengan motor itu karena udah gue tulis di buku :p Lanjut!

Singkat kata, kami tak mencapai ViengXai hari itu. Hari kedua coba lagi. Kapok sewa motor bobrok (adanya cuma itu), cari kendaraan umum. Terminal angkot (angkutan umum) di pinggir kota. Nggak ada satupun kendaraan umum dari pusat ke tepi kota. Bisa bayangin kota ibukota provinsi yang nggak ada kendaraan umumnya?

Akhirnya kami hitchhike. Modal jempol (atau telapak tangan terbuka lebih polite di daerah sini). Alias cari tumpangan kendaraan secara melambai-lambai di pinggir jalan. Akhirnya ada yang berenti. Ternyata mereka bahkan ke ViengXai, nggak cuma terminal saja. Hore! Happy ending? Nggak juga, ternyata mereka berhenti 5 km dari ViengXai. Dan karena kami nggak berangkat dari terminal, angkotnya (ga ada penumpang yang berminat) nggak jalan hari itu, jadi nggak ada kendaraan umum. Gimana dong? Hitchhike lagi!

Laos - Vieng Xai - Hitchhike

Ayo Ryan, mana jempolmu?

Berangkat tanpa makan pagi/siang, sampai di ViengXai, nggak ada satupun resto yang buka. Herannya minta makan warga juga nggak ada yang kasih. Sepertinya takut ngeracunin kita. Buntutnya makan biskuit beli di warung. Anak kecil yang jualan, ngebagi rujaknya dikit ke kita. Tapi buset rujaknya pedes banget. Makan kulit timun tipis aja gue megap-megap. Tapi lumayan nggak laper setelahnya. Ke gua-gua di situ harus ikut tur pemerintah. Untung nggak tutup. Kalo tutup bisa nangis gue. Semua berjalan luar biasa.

NB, sebenarnya gara-gara harus hitchhike ke sini, pengalaman kami jadi luar biasa. Mungkin suatu saat akan aku ceritakan. (Jadi bahan buku aja ya?)

Pulangnya dari ViengXai gimana? Lha ini masalah lain lagi. Kendaraan umum cuman kami yang berminat, minta duit gede banget. Nggak masuk akal.

Jam 4 sore waktu itu, belum sunset. Jadi kami nekad hitchhike lagi. Not the wisest decision: Nyaris nggak ada kendaraan lewat!! Mungkin bagi pemula hitchhikeres, ngacung jempol aja udah malu. Lha ini, siapa yang bisa diacungin? Yang lewat cuman motor!! Sepeda motor yang dinaiki oleh orang-orang yang jelas-jelas pergi jarak dekat, bukan ke kota lain yang 1 jam jaraknya. Mobil? Van? Bis? Truk? Kami nggak rewel, mau gerobak atau traktor pun kami oke. Masalahnya, nggak ada yang lewat!!! Jarak kota cuma 30-40km. Tapi rasanya jauhhhh sekali, kalau sudah kayak gini. 1 jam kami jalan, tanpa ada 1 mobil pun.

Ketika sampai di tikungan ke jalan yang lebih besar, syukurlah ada mobil mulai lewat. Semuanya kami coba hentikan. 3 mobil nggak mau berenti, 2 mobil nggak ngerti kami nyerocos apa, 1 mobil bilang dia nggak ke kota asal kami, tapi arahnya bener. Jadi kami bilang, kami ikut sejauh mana arahnya sama. Ini semua komunikasinya pakai bahasa isyarat lho! Kebayang? Kami duduk di bak terbuka di bagian belakang mobil pick up tadi, sampai kami diturunkan. Cuman 5 kilo terlalui. Jadi kami hitchhike tahap kedua sekarang.

Laos - Vieng Xai - Hitchhike

Kadang sama lokal, kadang sama ayam lokal.

Long story short, (tunggu bukunya aja keluar), butuh hitchhike 4 kali kembali ke kota asal. Tiap-tiapnya harus tunggu lama karena nggak ada lewat. Tiap-tiapnya, beresiko kami harus bermalam. Entah ada yang lokal yang buka pintu bagi kami, atau kelaparan di pinggir jalan.

So ya ^^ kembali ke topik, kalau ada yang nanya, gimana caranya ke ViengXai, terus gue harus jawab gimana ^^.

Butuh berapa duit ke ViengXai? Well, nol, karena hitchhike (numpang) seharian penuh. Hehe. Tapi kalau ada yang minat meniru, terus gagal, gimana?

Belum lagi ntar pasti ada yang bilang semacam: “kamu salah mbak, aku dulu ke ViengXai ada kok angkot-nya”. <- Ya, tapi jadwalnya ga tentu.

Atau nanggapin: “cari sewaan motor yg bener dong Mba.” <- I wish ada. Tapi persewaan motor ya cuma satu itu. Mau nyewa nggak?

Well, beda hari beda kisah. Ya nggak?

Mau jalan yang safe? Gue bisa saranin: Survey ke stasiun sehari sebelumnya (semoga nemu ojek ke sananya), janjian ama supir angkot. Harus nego. Cari pasukan, karena kalau privat jatuhnya mahal. Minta jemput sekalian ke guesthouse karena siapa tahu ga ada angkutan umum ke pinggir kota. <- Antisipasi tingkat tinggi.

Kalau gue sih, kalau waktunya ada, lebih suka play by ear. Nyantai, nyemplung, dan memberi peluang hal yang luar biasa untuk terjadi.

Kacau balau kah transportasi kami ke ViengXai? Iya. Tapi dari segi pengalaman, petualangan, dan kepuasan batinnya? Tak terkira! Pengalaman paling mengesankan di ViengXai bukanlah tentang keindahan alam dan tur ke gua-gua tujuan, namun apa yang kami alami gara-gara motor jebol dan angkot nggak ada.

Laos - Hua Phan - BeerLao and LaoLao time

Panggil saya “My-Name”

Nggak soal transportasi aja sih, soal makanan juga gitu. Kami sukanya ke tempat-tempat makan orang lokal, yang nggak ada penjelasannya itu apa. Jadi nggak tau nama-namanya. Lebih autentik, lebih seru, lebih asyik. Tapi jadi nggak bisa identifikasi itu apa yang gue makan. Tanya yang jual? Bahasanya nggak sama.

Bukannya nggak mau belajar bahasa mereka. Gue biasanya sepenuh hati mencoba belajar bahasa. Belajar baca tulisan mereka juga. Tapi itu nggak gampang-gampang amat. Berapa bahasa baru yang bisa kamu kuasai tiap bulannya? Tau nggak, “hello” dan “thank you” aja, orang lokal belum tentu ngerti.

Mungkin gue pernah cerita, Ryan sempat dipanggil “my-name”, karena dia bilang “my name is Ryan” sambil nunjuk dada 🙂

Tags: , , , ,

12 Responses to “Misadventures don’t Make Good Travel Guides”