Ransel vs. koper? Ransel dong!

Ransel Dina

Ransel versus koper, mana yang saya pilih? Ransel!

Oke, sebenarnya itu tergantung pada style dan tujuan anda bertravel ria. Bagi para cewek yang menomor satukan fashion, tentu saja hal ini sulit. Sepasang running shoes, sepasang sepatu berhak tinggi, sepasang sepatu cantik datar, sepasang sepatu sandal model teva atau keen, dan sandal jepit. Belum lagi bermacam-macam pakaian modis, sweater-sweater dan sebuah hair dryer. Yang cowok tidak mau kalah, mungkin akan pergi ke tempat yang sedang tidak summer, jaket kulit tidak ketinggalan, berbagai macam gadget elektronik tidak mau ditinggalkan. Aduh, kalo gitu bawa koper yang besar aja sekalian!

Tapi, kalau yang kalian inginkan adalah kepraktisan dan kenyamanan dalam low budget traveling dan adventure, di mana anda akan sering-sering berjalan dengan membawa semua barang anda, ransel alias backpack jauh lebih versatile daripada koper. Meskipun koper tersebut berukuran carry-on. Alasannya? Backpack praktis untuk segala medan, sedangkan koper praktis kalau anda cuma menggunakannya di permukaan lantai yang rata seperti di bahu jalan yang bertekstur mulus, lapangan parkir, dan di dalam bangunan (misal rumah, hotel, airport, mall) yang dilengkapi dengan lift atau eskalator untuk pindah lantai. Berdasarkan pengalaman saya berbackpacking, kondisi-kondisi tersebut jarang ditemui.

  • Hiking dan trekking

Yang paling obvious dulu: Hiking atau trekking di alam bebas. Masa mau tarik-tarik koper sewaktu melewati rerumputan, pepohonan, atau mendaki pegunungan?

Cobblerstone alias jalan berbatu di Granada, Spanyol.

Cobblerstone alias jalan berbatu di Granada, Spanyol.

  • Permukaan jalan tidak rata

Di sebagian besar jalanan di Eropa barat yang saya lewati, bahu jalan tidaklah rata. Alias gronjalan. Bahu jalan terbuat dari susunan batu-batu berbagai ukuran ataupun yang berukuran sama, atau memang batanya bertekstur tak rata. Bukannya mereka tak mampu meratakan bahu jalanan lho, namun memang sengaja dibuat demikian supaya indah. Baik pada masa kini atau sebagai peninggalana dari masa lampau. Salah satu teman saya yang kebetulan membawa koper beroda, rodanya putus akibat ditarik di jalan yang gronjalan ini.

Belum lagi fitur-fitur bahu jalan seperti sewage drain dan lubang bertanah untuk tanaman. Naikan dan turunan saat melewati depan pintu bangunan dan parkiran.

  • Naik turun tangga

Banyak hostel maupun hotel murah yang tidak pake lift, naik turun harus melalui tangga yang kadang-kadang sempit dan curam. Itu artinya koper harus diangkat dengan tangan. Seberapa beratkah koper anda? Untuk beban berat yang sama, membawa dengan tangan terasa lebih berat daripada membawa dengan kedua bahu. Good luck kalau kamar anda berada di lantai 5.

Juga banyak mall dan pasar tradisional yang tidak pakai lift atau eskalator.

  • Manuver di antara kerumunan manusia

Melewati pasar tradisional, ataupun bahu jalan yang dipenuhi dengan kios-kios. Para penjual, pebeli, dan orang yang cuma lewat memenuhi jalan. Manuver dengan backpack sangat mudah, sedangkan dengan koper lambat. Belum lagi kalau lantainya kotor.

  • Permukaan jalan yang kotor

Kubangan, tanah yang becek, trotoar yang bersampah dan berpermen karet. Ini hal kecil saja, tapi saya secara pribadi tidah suka kalau “tas” saya tercemplung kubangan.

Terus, apakah tidak berat pakai backpack?

Tentu saja pundak anda akan merasakan beban. Namun beban ini sebenarnya cukup minor kok. Saya orangnya kecil dan tidak atletis, jarang bergerak sebelum saya mulai backpacking ini. Backpack saya berukuran sekitar 60 liter, kurang lebih sama dengan sebuah koper standard carry-on. Dalam kondisi penuh, terlalu berat bagi saya kalau disuruh berjalan dengan menangkatnya dengan tangan (bayangkan kalau harus naik ke kamar hostel di lantai lima!) Namun begitu backpack ini saya pasang di pundah saya, saya siap jalan 1-2 jam dengannya.

Bagaimana caranya dong, supaya backpack tidak berat?

Saya akan menulis artikel khusus buat topik ini, harap dinantikan. Namun intinya:

  • Travel light
    • Bawa barang yang benar-benar diperlukan. Misalnya ikuti prinsip 1 dipakai 1 dicuci untuk pakaian.
    • Pilih barang-barang yang berbahan ringan. Misalnya pilih celana panjang ala cargo berkantung banyak daripada celana jeans yang berat.
  • Backpack berukuran kecil/sedang

Kalau anda tidak berencana membawa sleeping bag, backpack berukuran 40-60 liter dianggap pas oleh banyak backpackers.

  • Pilih backpackmu sesuai dengan postur badanmu

Point ini sangat penting. Anda harus benar-benar picky pada saat memilih. Backpack yang baik harus sesuai dengan bentuk tubuh pemakainya. Anda harus mencoba pack itu sendiri sebelum memilihnya. Ada banyak strap-strap yang harus diketatkan atau diperlonggar, adjust semuanya. Minta penjaga toko untuk memasukkan benda-benda berat ke dalam pack tersebut, coba berjalan-jalan di toko dengan itu. Kalau tidak nyaman, jangan dibeli. Kalau jalan-jalan satu menit saja tidak nyaman, bagaimana mau nyaman berjalan 1 jam dengannya?

  • Pasang backpackmu dengan benar

Semua strap diciptakan untuk memaksimalkan kenyamananmu. Pakai semuanya, dan adjust semuanya.

Giliran anda: Apa pendapat anda mengenai backpack?

Bagi saya, backpacking itu adalah cara. Bukan Tujuan. Tujuannya? Bagi saya sih, merasakan dunia.

Saya backpacking bukan untuk jadi backpacker. Tapi untuk merasakan dunia.

Ransel sangat berguna bagi saya dalam membantu saya merasakan dunia. Ketimbang koper. Namun kalau bagimu ransel tak memberi nilai tambah apa-apa, ya nggak perlu maksain pake ransel lah ^^…

 

Tags: , ,

17 Responses to “Ransel vs. koper? Ransel dong!”