Suasana Pedesaan “Hutan Beton” Ala Hong Kong

Lokasi: Kam Tin, Hong Kong

Jujur aja sebelum kami mulai mengembara ini, saya rada cuek tentang dunia. Ilmu peta parah, ilmu geografi parah. Makanya, waktu kami tiba di Hong Kong, saya agak kaget bahwa ternyata Hong Kong juga punya pedesaan!

 

Toko sayur-mayur di Kam Tin

Toko sayur-mayur di Kam Tin

Ini berawal mula dari ide untuk menyewa kamar di rumah orang lokal, tidak menginap di penginapan umum yang biasanya kami lakukan. Mengapa? Singkatnya, kami ingin mengenal lebih dalam kehidupan orang Hong Kong.

Jadilah kami browsing di 9Flats.com, sebuah website yang berfungsi untuk mencari kamar/rumah orang lokal yang disewakan. Jangkauan 9Flats mencapai seluruh dunia, dan senangnya mereka punya beberapa unit di Hong Kong! Melalui website ini, kami menemukan rumah bernama “Maison Les Délices” yang terletak di area Kam Tin, New Territories.

Maison Les Délices

Maison Les Délices

Dari foto-fotonya, rumah ini tampak luar biasa artistiknya, dan luas! Tidak seperti kamar sempit-sempit yang kakak saya pernah ceritakan. Tidak sempit seperti yang kadang saya lihat melalui koran dan televisi. Pemilik rumah ini adalah pemilik sebuah galeri seni di Paris, pantas saja rumahnya sangat berkelas. Penasaran, kami booking sebuah kamar artistik di rumah tersebut. Hong Kong nggak akan sama bagi kami tanpa ini, karena berkat Vanessa dan letak rumahnya lah, kami teralirkan ke suasana pedesaan Hong Kong, yang tadinya tak terpikirkan oleh kami!

Saya sebenarnya nggak terlalu yakin juga, apa pedesaan adalah istilah yang tepat, tapi memang dalam bahasa Inggris disebut village. Tapi beda sekali topografinya dengan desa di Indonesia yang memiliki banyak rumah sangat sederhana atau bahkan gubug. Beda dengan desa di negara-negara barat yang biasanya terdiri dari tanah-tanah perkebunan dengan rumah yang terpencar-pencar. Biasanya jika saya membayangkan desa, saya membayangkan tempat yang hijau dan asri. Tempat kita bisa menghirup udara dalam-dalam, menikmati aroma pepohonan di sekitar kita tanpa polusi.

Village di New Territories, Hong Kong

Desa ala hutan beton

Sangat berbeda dengan desa-desa di daerah Kam Tin ini. Desa di sini, penampilannya seperti ruko beton! Semua bangunan berketinggian 3 lantai, terbuat dari beton, dengan penampilannya cukup seragam. Dindingnya kadang dicat putih polos, kadang dilapisi ubin. Gang-gangnya sempit, bahkan ada yang terlalu sempit untuk dilalui oleh mobil, dan di kanan kiri perumahan putih ini menjulang tiga lantai. Nyaris tidak ada pelataran, semua lahan dikorbankan untuk bangunan. Yang paling aneh, nyaris tidak ada rumput di desa ini, karena seluruh permukaan tanah, baik jalanan maupun pelataran kalaupun ada, semuanya tertutup oleh beton! Concrete jungle, alias hutan beton, kami menyebutnya! Benar-benar nuansa desa yang aneh bagi kami.

Mengapa kok 3 lantai semua? Seragam? Menurut teman baru kami, si pemilik rumah, ini dikarenakan ada peraturan tentang membangun rumah di wilayah pedesaan Hong Kong. 3 lantai maks. Tentu saja banyak yang curi-curi membangun beranda open air di atap mereka. Karena sifatnya bukan struktur tetap, lantai 4 ini bisa dianggap bukan lantai 4. Terus, ada yang membangun atap untuk beranda lantai 4 ini, hehe. Perjuangan untuk meluaskan rumah namun tetap “mengikuti” peraturan! Namun hasilnya demikian, rumah-rumah di sini rata tingginya!

Perumahan 3 lantai di perdesaan Hong Kong

Perumahan 3 lantai di perdesaan Hong Kong

Hal yang lucu lagi adalah mengenai jalanan. Terkadang jalanan di sini bukanlah jalanan umum, namun ada pemiliknya, meskipun sebagian besar kita bisa lewat. Ceritanya, tanah dulu di sini adalah tanah keluarga berupa petak-petak luas. Tanah ini diwariskan dari generasi ke generasi hingga sekarang. Kalau dulu tanah pertanian luas hanya ditempati 1 keluarga, sekarang tanah tersebut terpisah-pisah menjadi puluhan rumah penduduk. Dan tiap rumah butuh akses ke jalanan kan, sehingga mereka harus kompromi untuk mengorbankan sepetak rumahnya untuk dijadikan jalanan. Bahkan ada rumah orang yang sebenarnya tidak tersambung ke jalanan, jadi mereka keluar masuk lewat pelataran tetangganya, yang berbaik hati tidak membangun di titik tersebut agar rumah tadi punya akses. Wow!

Walaupun di mata kami, desa ini lebih menyerupai daerah perumahan kota biasa, namun bagi orang Hong Kong, inilah yang disebut countryside alias kawasan pedesaan. Kadang-kadang sebuah bis pariwisata melewat di depan rumah kami. Penasaran, kami tanya ke Vanessa, ke manakah mereka. Ternyata mereka adalah orang-orang dari pusat kota, berbondong-bondong mengunjungi sebuah perkebunan di sini untuk memetik stroberi, hehehe.

Desa bertembok Kat Hing Wai

Pedesaan di sini bukan sekedar desa tak beridentitas. Walaupun namanya mungkin kurang populer di telinga para turis manca negara, namun di sini lah terletak “walled village” Kat Hing Wai. Desa berdinding adalah sebuah desa di mana di sekelilingnya dibangun tembok pertahanan, untuk melindungi para warga dari serangan musuh. Di jaman Dinasti Ming dan Qing, daerah sepanjang pesisir Guangdong banyak diserang oleh perompak dan bandit, karena itu banyak desa yang membangun pertahanan ini.

Walled village Kat Hing Wai, Kam Tin, Hong Kong

Desa bertembok Kat Hing Wai

Tembok Kat Hing Wai yang tingginya 5 meter ini memiliki ketebalan setengah meter. Dibangun pada abad ke-17, tembok ini berfungsi untuk melindungi penduduknya bukan hanya dari bandit saja, namun juga dari klan-klan lainnya, juga dari macan liar! Tembok yang dilengkapi oleh 4 menara kanon ini melindungi area seluas 100×90 meter persegi. Walaupun perumahan di balik dinding ini sudah dibangun ulang, namun dindingnya masih utuh. Dan hanya ada satu jalan masuk untuk ke dalamnya! Lucunya, karena jaman sekarang rumah desa di Hong Kong adalah 3 lantai, rumah-rumah menonjol lebih tinggi daripada dinding desa yang mengelilinginya!

Desa Kam Hing Wai

Desa Kam Hing Wai

Desa Kam Hing Wai

Salah satu desa lainnya bernama mirip, Kam Hing Wai, dulunya ini adalah sebuah desa berdinding pula, namun sepertinya dinding ini telah dibongkar. Entahlah, yang pasti kami tidak mengamati dinding panjang seperti pada Kat HingWai. Letak desa yang satu ini sangat dekat dengan rumah yang kami tempati, jadilah kami berjalan-jalan di desa ini: ternyata menarik! Berikut ini tempat-tempat asyik di Kam Hing Wai dan sekitarnya:

Kam Tin Tree House

Dari namanya, tree house, tadinya saya pikir ini adalah sebuah restoran atau kedai teh yang dibangun di sebelah pohon besar (salah kaprah sama tea house rupanya). Atau sebuah pondok kayu di atas pohon, yang suka dibuat oleh orang barat. Ternyata, ini adalah sebuah rumah tua yang terbuat dari bata dan batu, yang dimakan oleh sebuah pohon beringin besar!

Kam Tin Tree House, Hong Kong

Kam Tin Tree House

Diceritakan bahwa rumah batu tua ini kemungkinan adalah sebuah tempat sembahyang atau belajar dari jaman Ching. Kemudian pemilik rumah ini meninggalkan lokasi tersebut dalam sebuah evakuasi, dan tak pernah kembali. Sebuah pohon beringin yang tumbuh di situ perlahan menyelimuti rumah ini. Akarnya menerobos bata dan batu granit yang menjadi tembok dan pintu rumah tersebut. Rumah semkain hancur, pohon semakin besar. Akhirnya, rumah tersebut pun tertelan oleh sang pohon!

Di dalam Kam Tin Tree House

Pintu dan jendela

Kini, rumah pohon ini berlubang di tengahnya. Seolah memiliki pintu muka dan belakang yang tak berdaun pintu. Ada pula jendelanya, dan ada pula semacam beranda sampingnya! Semuanya tampak sangat seperti pohon, namun dalam bentuk rumah kecil, dengan bata dan batu di sana ini. Rumah pohon ini dapat dikeluar-masuki para turis yang mendatanginya. Gratis! Umumnya para turis datang dengan bus. Kalau kalian ke sana, pada saat penuh dengan turis, tunggu saja beberapa menit. Dengan segera seluruh pengunjung akan lenyap, dan kalian bebas menari-nari seorang diri di dalam rumah pohon ini!!

Klenteng dan study hall tua

A temple in Kam Tin, Hong Kong

Kuil di desa

Di sekitar desa ini, terdapat beberapa klenteng dan study hall kuno. Altar utamanya masih digunakan sebagai tempat bersembahyang, umumnya berdekorasi merah menyala, warna khas China. Dari papan-papan penjelasan yang diletakkan di sana, dapat dipelajari pula sejarah lokasi ini.

Study halls in Kam Tin, Hong Kong

Tempat ibadah dan belajar kuno

Rumah ambruk

Menurut saya, yang paling aneh adalah rumah ambruk yang terlihat di sana-sini di tengah kawasan rumah pedesaan bertingkat 3 ini. Rumah tersebut jelas-jelas batanya sangat tua. Catnya sudah mengelupas, kadang hampir seluruhnya. Atapnya kadang jebol, atau kadang tertutup oleh tanaman! Kaktus, lagi!! Dari jendelanya yang pecah, kadang bisa terlihat isi dalamnya. Barang-barang tua rusak tak terawat.

Rumah ambruk beratap kaktus di Kam Tin, Hong Kong

Rumah ambruk beratap kaktus

Bagi orang Hong Kong yang seolah kekurangan lahan, kami bingung mengapa rumah tua seperti ini tidak dipugar saja. Vanessa menjelaskan bahwa penyebabnya adalah kerancuan dalam hal kepemilikan. Tanah yang tadinya luas, dibagi-bagi dari generasi ke generasi. Kadang-kadang pembagian ini menjadi rancu, dan akibatnya, kini banyak pihak yang mengklaim sepetak tanah yang sama. Karena kerumitannya, keputusan tak selalu mudah dibuat. Alhasil, ada beberapa rumah kuno, yang tak dapat dikatakan siapa kini pemiliknya. Jadi tak ada yang bisa membangun dan menggunakannya.

Flea Market Kam Sheung Road Station

Kam Sheung Road station flea market, Hong Kong

Flea Market di sebelah stasiun Kam Sheung Road

Akses praktis ke Kam Tin dari pusat Hong Kong adalah dengan naik MTR (metro). Turunnya di stasiun Kang Sheung Road. Kalau mau ke sini, sebaiknya di hari Minggu pagi, sebab ada Sunday flea market alias pasar Minggu di sekitar stasiun ini! Ada apa saja? Banyak berbagai street food, ngeliatin anak kecil mancing ikan mas, belanja berbagai pernak-pernik seperti pakaian, kerajinan tangan, mainan, makanan dan minuman, dan lain-lainnya. Banyak juga penduduk lokal yang berkumpul untuk dengan anjing-anjing mereka yang bergaya, lucu-lucu!!

Kam Sheung Road Station flea market - food

Wisata kuliner di flea market

Red Brick House

Ada lagi flea market yang populer di kalangan masyarakat lokal, Red Brick House. Nggak jauh dari stasiun. Di sana terdapat banyak toko berjualan barang-barang dekorasi dan cafe-cafe kecil. Saya kurang suka dibandingkan dengan flea market di sebelah stasiun, kurang asyik dan kurang etnis rasanya. Tapi berhubung terkenal, rasanya nanggung kalau tidak disebutkan.

Kam Tin Red Brick House, Hong Kong

Kam Tin Red Brick House

Begitulah kisah kami di pedesaan “hutan beton” Hong Kong. Dari sini kami sadar bahwa Hong Kong bukan hanya satu sisi saja, kota yang modern, sibuk, dan gemerlap. Hong Kong bukan hanya gedung-gedung pencakar langit dan patung Buddha raksasa.

Desa lain yang sangat menarik untuk dikunjungi, dan sangat mudah aksesnya, adalah Tai O, desa nelayan di mana masih banyak rumah sederhana dan gubug yang didirikan di atas air dengan tonggak-tonggak kayu. Berbeda dengan area Kam Tin yang sangat sepi turis, desa nelayan ini sangat terkenal, sehingga jalanannya penuh sesak dengan penjual makanan laut baik segar maupun kering, dan para turis manca negara.

Tanpa menginap di rumah Vanessa, kemungkinan besar kami tak kan pernah melihat sisi pedesaan Hong Kong yang sepi turis. Tak kan pernah melihat Tree House dan rumah-rumah ambruk di tengah perkampungan rapat bertingkat 3. Tanpa dia, kemungkinan besar kami tidak akan tahu tentang hal-hal unik dan ruwet seputar kepemilikan tanah di daerah pedesaan Hong Kong. Dan ini hanya lah sebagian kecil saja dari cerita-cerita Vanessa. Beginilah asyiknya tinggal di rumah penduduk!

Ingin melihat suasana pedesaan Kam Tin dan rumah Vanessa “Maison Les Délices” yang artistik dalam bentuk video? Silahkan menikmati:

Terima kasih untuk 9Flats yang mensponsori akomodasi kami di Kam Tin, Hong Kong.

 

Tags: , , ,

6 Responses to “Suasana Pedesaan “Hutan Beton” Ala Hong Kong”