Petualangan Amerika Tengah: Paddleboarding dari Honduras ke Belize

Paddleboarding Gratis

Traveling sering membuat kita mencoba petualangan dan olah raga yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Sewaktu kami berada di Pulau Roatan, Honduras, kami memenangkan sesi stand up paddleboarding gratis, yang tentunya tidak kami lewatkan.

Sunset Paddleboarding in Roatan Island, Honduras

Paddleboarding

Seharian kami sibuk mengikuti kursus selam Open Water PADI dengan Atlantic Sea Divers, dan sorenya kami mengambil sesi paddle boarding gratis ini. Jujur saja, saya orangnya agak penakut untuk olah raga air aneh-aneh gini. Namun sebagai pecinta sunset sejati, kesempatan untuk menonton matahari tenggelam di atas air dengan paddleboard ini terdengar begitu indah, sayang untuk dilewatkan.

Briefing

Lokasi paddleboarding kami sore itu adalah sebuah teluk cantik bernama Half Moon Bay. Setelah kami berpotret manis dengan kawan-kawan baru kami, berpose dengan board kami di air dangkal, mulailah sesi briefing.

Half Moon Bay aerial postcard - Roatan Island, Honduras

Kartu Pos DuaRansel: Half Moon Bay's aerial shot

Ternyata briefingnya tidak sampai 1 menit:

“Naik ke atas papan paling gampang melalui posisi berlutut.”

“Usahakan setengah mungkin supaya seimbang.”

“Berdiri.”

“Pegang dayungnya seperti ini.”

“Ayo mulai mengayuh.”

Dalam 1 menit itu juga, termuat briefing tentang safety:

“Lihat bagian air yang warnanya lebih gelap? Itu karang, jangan lewati itu.”

Dina: “Yang mana?”

“Yang itu.”

Itu yang mana sih, ga jelas banget! Apa sih yang ditunjuk-tunjuk, lautnya gelap terang gelap terang. Telunjuknya entah ngacung ke mana. Ke arah air laut? Horizon? Atau bahkan matahari di langit? Ga jelas banget. Ya udah deh, yang penting aku ngekor si pemandu aja.

Melaju!

Dan tanpa babibu lagi, si pemandu mulai melaju. Tertiup angin, yang hari itu agak kencang, rasanya sangat terombang-ambing. Terus terang saya ndak pede banget. Ini pertama kalinya saya berdiri di atas papan surf jenis apapun. Saya teriak ke sang suami tercinta, “Ryan… Bagaimana nih kalau sampai jatuh…”

Dan salah satu teman baru kami menyahut, “Hehe, kalau ndak jatuh, ndak seru dong!”

Ooo… gitu ya? Yang lain juga sering jatuh? Ga ingin basah sih sebenarnya, tadi seharian sudah di bawah air terus sewaktu kursus selam. Tapi setidaknya tidak bakal terlalu malu-maluin lah, kalau jatuh.

Saya berkutat dengan keseimbangan, sementara berusaha mengayuh dengan otot lengan saya yang kecil dan lemah. Ryan paling depan, kemudian si pemandu, kemudian saya. Tidak tahu di mana ketiga orang yang lain. Itu menit kedua saya berada di atas papan paddle. Saya hanya berani melihat ke arah depan, karena takut hilang keseimbangan kalau toleh-toleh belakang.

Si pemandu menunjuk ke bola apung kuning agak jauh di depan mata, katanya, itu batas aman. Si Ryan melaju ke arah bola kuning. Si pemandu berusaha memanggil Ryan untuk kembali. Saya masih mengekor, tidak tahu harus ke mana selain itu.

Pemandu: “Ryan, kembali, jangan melewati karang, arusnya kuat.”

Ryan: “Karang? Di mana? Di bawah sini?” Sambil melongok ke bawah.

Oops, Ryan kehilangan keseimbangan dan jatuhlah ia. Kami tertawa-tawa saja, sementara Ryan memanjat kembali papannya.

Acara Potret-potret

Saya melihat ke lepas pantai. Matahari hampir tenggelam, cantik sekali. Teringatlah kalau Ryan membawa kamera tahan air kami, ah… waktunya foto-foto! Si pemandu kebetulan membawa serta anjingnya yang lucu, dan ia berbaik hati meminjamkan anjingnya pada saya untuk ikut dipotret. Si anjing protes ketika diulurkan ke papan saya, dan sangat lega ketika dikembalikan ke papan majikannya.

Paddleboarding in Roatan Island, Honduras

Sempat-sempatnya bergaya

Pemandu: “Oke, ayo berbalik ke dekat pantai sedikit.”

Setelah itu, semua terjadi dengan cepat.

Ryan berbalik, begitu pula pemandu. Namun tidak begitu halnya dengan saya! Mencoba berputar ke kanan, arus dan angin meniup saya kembali ke kiri. Saya masih menghadap ke lautan bebas. Kemudian saya mencoba berputar ke kiri, arus dan angin meniup saya ke kanan. Dan lagi-lagi saya masih menghadap ke lautan luas.

Bukannya saya tidak tahu cara mendayung. Saya sudah pernah mengayuh kapal, raft, kayak, dan lain sebagainya. Tapi angin dan arus saat itu meniup kami ke arah lautan bebas menjauhi pantai. Melawan arus memang tidak gampang, apalagi ketika arus lebih kencang daripada hari-hari biasa. Ini bapadahl masih di batas aman.

Kenyataannya, otot lengan saya yang lemah gemulai ini tidak kuat untuk memutar papan melawan arus. Tiba-tiba, kami sudah dekat sekali dengan batas bola apung kuning.

Saya diperintahkan untuk berlutut supaya lebih seimbang dan mengurangi dampak dorongan angin. Dengan susah payah, dia berhasil menarik saya sedemikian rupa sehingga papan saya sekarang menghadap ke pantai. Phew, lega deh! Sekarang tinggal mengayuh lurus ke pantai.

Benar kan?

Kayuh, kayuh, kayuh. Kayuh maju sekuat tenaga. Saya melihat bola kuning yang sekarang sudah terletak di antara saya dan pantai. Saya harus kembali ke bola kuning. Tapi, semakin lama saya mengayuh, semakin jauh jarak saya dari bola kuning tersebut.

Lho kok?

Apakah saya mundur?? Saya mundur!!

Angin dan arus semakin kuat menyeret saya ke tengah laut. Si pemandu yang ototnya luar biasa saja tidak banyak membuat kemajuan dengan kayuhan supernya, tidak heran kalau saya melaju mundur.

Saya berteriak: “Help me! Saya mengayuh sekuat tenaga, tapi malah mundur nih, what should I do?”

Pemandu: “Paddle harder!”

Saya: “This is as strong as I can! I’m not kidding!”

Pemandu: “Harder!”

Saya: “This is my hardest!!”

Saya bingung, ini udah sekuat tenaga kok dikira main-main sih, siapa gitu lho, yang ingin kintir (hanyut).

Ryan berteriak ke pemandu juga: “She is not very strong, she tries her best and not moving forward. She needs help.”

Pemandu mulai jengkel. Dia menyuruh Ryan mengayuh ke arah pantai dan bergabung dengan teman-teman yang lain, sementara dia akan membantu saya. Ryan ingin membantu juga tapi tidak dia bolehkan karena dia takut malah 2 orang nanti yang ikut terseret arus.

Saya sudah tidak lihat-lihat bawah lagi apakah karang ada di bawah saya. Rasanya itu detil yang kurang penting. Yang saya tahu, setelah lihat kanan dan kiri, saya mulai meninggalkan teluk kecil yang aman tersebut. Bola kuning tampak menjauhi saya.

Tanpa mengayuh, saya mundur dengan cepat. Dengan mengayuh sekuat tenaga, saya pun masih tetap mundur, meskipun tidak terlalu cepat.

Berkayuh ke tepian, or not?

Pemandu mencapai saya. Mulailah sesi penggandengan kedua board. Idenya, dia akan menggeret papan saya. Hal ini ternyata bukanlah hal yang gampang. 2 orang, 2 papan, 2 dayung, dan 1 anjing. Coba ada tali, pasti beda halnya. Tanpa tali, bagaimana caranya menggabung kedua papan?

Berbagai cara kami lakukan, selagi meluncur mundur posisi berlutut. Semakin jauh dari teluk, semakin kuat angin dan arusnya. Sekarang bayangkan posisi papan saya mengekor papan pemandu. Saya tengkurap dan berpegang ke papannya. Namun dengan demikian saya tidak bisa membantu mengayuh, dan kayuhan hanya dia sendiri kurang kuat. Gagal.

Di papan pemandu terdapat tali elastik pendek untuk mengikat barang bawaan. Ujung yang satu dicantolkan ke papannya, ujung yang satunya lagi saya pegang kuat-kuat. “Hold it with all the strength you have,” katanya. Kayuh, kayuh, kayuh, kami membuat kemajuan. Tapi tiba-tiba tali terlepas dari papannya. Gagal.

Strategi tali dilakukan kembali, kali ini talinya dikaitkan ke papan saya, sehingga saya bisa bantu mengayuh. Lagi-lagi kami membuat kemajuan kecil. Tapi tiba-tiba tali terlepas lagi. Gagal.

Dia mengepit dayung saya dengan kakinya dan saya memegang ujung satunya dengan kedua tangan. Sepertinya akhirnya kami berhasil menemukan formula penggandengan papan. Dia mengayuh sekuat tenaga, saya berusaha membantu dengan tendangan kaki. Namun sayangnya kami masih melaju mundur. Gagal lagi?

Saking sibuknya, tadi saya tidak terlalu memperhatikan ke arah depan. Pantai ternyata sudah nun jauh di sana. Teman-teman sudah tidak tampak lagi, membaur dengan latar belakang. Bahkan saya sudah tidak bisa melihat bola kuningnya! What the heck!

Pemandu tampaknya sudah sangat frustasi. Kami kehabisan ide akan apa yang bisa membuat kami maju. Herannya, saya masih sempat-sempatnya menikmati pemandangan. Iya, selagi tangan berpegang pada dayung, kaki menendang-nendang air, dan melaju mundur, apa lagi yang bisa saya lakukan? Pemandangan teluk dan pantai ini luar biasa, dan rasanya sangat keren menikmati ini dari papan yang meluncur ke tengah lautan. Sayangnya saya tidak bisa menoleh ke belakang. Taruhan, sunsetnya pasti indah sekali!

Agak cemas juga sih, saya sudah nyadar bahwa saya dan pemandu saja tidak akan menyebabkan kami mencapai daratan. Saya cuma berharap kalau ada kapal yang menyelamatkan kami. Semoga Ryan bisa mencari orang yang bisa membantu.

Saat itu, untung saja saya tidak berpikir tentang hiu. Hiu pada umumnya tidak mengganggu dan memburu manusia, dan saya yang suka diving justru ingin melihat ikan hiu. Namun dengan kondisi seperti saat ini, bisa-bisa saya malah panik tidak ada juntrungnya kalau lihat hiu sungguhan.

Ryan

Paddleboarding during sunset in Roatan Island, Honduras

Ryan memotet kami yang sedang terseret arus. Ayo, tebak, saya yang mana!

Oh ya, di manakah Ryan sekarang?

Ternyata walau arus tidak sekuat di luar teluk, di dalam teluk pun melawan arus tidak cukup gampang. Selagi kami terseret arus berkali-kali lipat jarak bola kuning ke pantai, Ryan hanya dapat maju setengah jarak tersebut, di mana teman-teman yang lain berada. Sudah saya bilang, semua hal ini terjadi dengan sangat cepat. Ryan melihat ke arah kami, dan kaget bahwa kami sudah jauh sekali dari bola kuning patokan. Sangat jauh, sehingga kami tampak sangat kecil hampir mencapai garis horizon. Dan semakin menjauh saja. Dia tersadar kalau kami terseret arus. Dia mengayuh lebih kuat lagi untuk mencapai pantai dan menyari bantuan kapal.

Paddleboarding during sunset in Roatan Island, Honduras

Benarkah tebakanmu?

Kapal Penyelamat

Sebelum Ryan mencapai pantai, ternyata ada seorang pemilik kapal kecil dan temannya yang melihat kami berdua yang kepayahan di tengah laut. Tanpa ada yang memberi tahu atau meminta, pemilik kapal yang baik hati ini segera melajukan kapalnya ke arah kami, siapa tahu kami butuh bantuan. (Ya!!)

Wah…. senangnya ketika melihat kapal kecil berwarna biru putih ini melaju mendekat. Hore!! Beberapa saat kemudian kapal pun tepat di sebelah kami. Saya melompat ke dalam kapal, dapat dipastikan senyum saya lebar sekali, senyum menang lotere. Papan dan dayung saya diselamatkan juga. Tapi yang bikin saya bingung, kok pemandu saya tidak meloncat ke dalam kapal? Ternyata dia ingin paddleboarding masih, ke daratan. Katanya, kalo ndak harus sambil narik saya, dia kuat ngayuhnya. Ya sudah deh, saya utarakan terima kasih saya yang seluas samudra dan say goodbye padanya.

Di perjalanan pulang ke pantai ini, saya baru tersadar kalau saya ternyata terseret arus benar-benar jauh. Wow!

Si bapak penyelamat bertanya sambil senyum -senyum, “What are you doing out there? Trying to go to Belize?”

 

Roatan map from www.roatan.net

Peta Amerika Tengah (sumber: www.roatan.net)

 

Ouch! Dasar si Bapak!

Btw kawan-kawan, jarak Pulau Roatan (Honduras) dan Belize adalah sekitar 200 km, kurang lebih setengahnya jarak Jawa dan Kalimantan.

Makasih ya, Pak, kalian menyelamatkan saya. Tanpa kalian, sore yang seru ini mungkin tidak berakhir segembira ini!

~~~ The End ~~~

Catatan:

  • Jangan menghindari paddleboarding gara-gara artikel ini. Paddleboarding adalah kegiatan yang fun dan relatif aman, jika dilakukan di perairan tenang. Lagian saya kira otot lengan kamu lebih kuat daripada punya saya 🙂
  • Terima kasih pada para penyelamat saya: Dawn si pemandu, Marvin pemilik kapal, dan temannya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah terseret arus juga? Ayo ikut nimbrung di kolom comment di bawah ini!

Typical sunset in Half Moon Bay, Roatan, Honduras

Tipikal sunset di Half Moon Bay

Tags: , , , , , , , , ,

15 Responses to “Petualangan Amerika Tengah: Paddleboarding dari Honduras ke Belize”